hari itu hujan. entah hari apa. tapi kami berdua sedang di dalam angkot. saya seperti biasa, tidur di pangkuannya dengan posisi yang tidak enak. ditambah lagi beberapa saat kemudian, angkot tersebut berhenti dan mengangkut seorang ibu-ibu dengan sekantong plastik ikan kering, dan beberapa panci. saya sampai sekarang berdoa semoga ibu itu sadar bahwa ikan keringnya berbau basi dan tidak memakannya. hampir semua penumpang terganggu dengan baunya. saya contohnya, langsung memohon mama untuk segera turun dari angkot walaupun rumah kami sudah dekat. turunlah kami di depan pasar, dengan muntahan makanan seharian mengalir deras dari mulut saya.
lain kali kita naik taksi saja yah mama? kata saya. jujur, saya memang sepuluh juta kali lipat lebih manja ketika masih kecil. mama dengan mantap mengiyakan. rupanya dia juga trauma dengan bau ikan kering tadi. semenjak itu, kami tidak pernah naik angkot lagi. dia, lebih tepatnya. semenjak sma sy sering curi-curi naik angkot tanpa sepengetahuannya.
saya pernah demam tinggi beberapa kali. setiap kali demam, saya mimpi buruk, berhalusinasi audio dan visual. tentang pasir yang menjadi banyak, atau kerikil yang menjadi besar dan menindih saya, well, kadang-kadang, soal-soal matematika yang menggema bersamaan dengan hancurnya bangunan-bangunan sekitar saya (hell yeah, that was damn scary), apocalypse, atau apapun. one day, it got worse. segala audio dan visualisasi itu terbawa sampai saya bangun. mengikuti, memarahi saya, menyuruh saya ini dan itu dan saya tidak bisa menolak. saya berteriak-teriak, menangis. kata seseorang teman pengajian mama, saya diguna-gunaiatau semacamnya. katanya itu suara setan. saya diberi sebuah kertas yang terbungkur lak ban. dilarang membukanya, katanya. cukup bawa saja kemana-mana, niscaya setan akan pergi. indeed, suara-suara itu hilang dengan segala upaya saya untuk menutup teli ga saya akan suara itu. lalu, beberapa minggu yang lalu, saya baru saja menerima pelajaran tentang sistem neuropsikiatri. di bagian psikiatri dijelaskan bahwa halusinasi dapat terjadi jika seseorang demam tinggi dan merusak bagian otak tertentu. dan jika seseorang mengalami halusinasi auditori, dalam artian mendengar suara yang memerintahkannya melakukan hal-hal dan penderita tersebut tidak mampu menolak, itu dinamakan waham. disembuhkan dengan obat. bukan kertas misterius yang disematkan di baju. the news is, mama saya seorang dokter. mengapa lari ke paranormal? tanya saya dalam hati. mengapa tidak memberi obat? mengapa tidak membawa saya ke psikiater? mengapa membiarkan saya struggling, menunggu sembuh sendiri, menangis bermalam-malam?
entah di umur yang keberapa, tapi saat itu saya sudah tahu tentang beberapa hal. seperti, bahwa suatu hari orang akan mati. lebih tepatnya, mama akan mati. lalu kapan mama mati? apa boleh saya mati duluan saja? itu pertanyaan saya pada Tuhan. hal itu saya pikirkan berhari-hari, berminggu-minggu sehingga setiap kali mama tidur siang, saya akan terjaga di sampingnya dan menaruh jari di depan hidungnya, mengecek apakah masih ada napas keluar dari sana. dan insting mama selalu tepat, dari hari itu saya sadar akan hal itu. dia tahu saya sedang sedih akan sesuatu. walaupun sampai detik ini saya tidak pernah bilang padanya bahwa saya takut dia pergi untuk selamanya. hari itu juga saya tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada mama. hari itu saya mulai mengenal rahasia. dan hari itu pula saya tahu bahwa walaupun tidak tahu konten rahasia itu apa, mama selalu tahu ada sesuatu. selalu. and she does it her way, as i alao do it my way. i keep the secret, she tries to help in any way. hari itu mama menyuruh saya bolos sekolah. dan dia pun bolos kerja. kami pergi ke mal. jalan-jalan, makan fast food, menonton lomba nyanyi yang diadakan di hall mall. dan saya pun menangis. mama lalu bertanya kenapa. saya jawab saja saya sedih entah kenapa. mama bertanya apakah saya mau beli barbie baru? atau mau baju barbie? atau mau apa? saya jawab, saya mau pulang. sambil memeluk mama dan menangis. dalam hati, saya mau mama tidak meninggal. saya mau mama hidup selamanya.
saya kelas dua sma ketika suatu hari guru biologi saya yang kata-katanya selalu kasar, mengatakan saya bodoh di depan umum. saya paling benci kata itu. nobody should ever created that word. di dalam perjalanan pulang, mama sedang badmood, dan unintentionally, melampiaskan segala bad mood itu ke saya, membuat saya jatuh mental. ya, mental saya seperti bubur, lembek, gampang hancur. satu-satunya alasan saya menghindari konflik dengan orang terdekat adalah karena ini. karena saya akan hancur sehancur-hancurnya ketika ada konflik dengan mereka. sesampainya di rumah, saya masuk kedalam lemari pakaian saya. menangis berjam-jam dan tertidur disana. saya terbangun oleh suara ayah yang panik mencari saya. ketika ayah bertanya mengapa saya ada disana, tangis saya pecah, tersedak-sedak menjelaskan. saya ditenangkan ayah. mama terpaku beberapa saat di depan pintu. hanya diam dengan ekspresi yang tidak bisa saya tebak.
masa-masa remaja saya dipenuhi dengan drama lingkungan. kadang saya merasa sedih tanpa alasan. dalam hari seperti itu saya akan tidur lebih cepat, menangis di dalam kamar yang gelap. suatu hari mama datang dan mengelus-elus rambut saya di ruang tamu. apa yang selalu membuatmu sedih? tanyanya halus. saya tidak menjawab. mama tahu kamu selalu sedih akhir-akhir ini, setiap kali kamu masuk ke kamar terlalu cepat, mematikan lampu kamar dan menyalakan lagu.
saya tidak menjawab. mama terus mengelus rambut saya.
saya selalu berdoa yang terbaik untukmu. katanya sambil memeluk kepala saya.
entah seperti apa pandangan mama terhadap saya sekarang sebagai person. yang saya tahu, doanya tidak pernah putus untuk saya dan kakak-kakak saya. terkadang mama terlalu kenal siapa saya sampai katanya tajam menusuk. ada ketidakpuasan dari saya terkadang, bertanya mengapa ini dan mengapa itu. kami berdebat, kami berselisih paham, dan saya tahu saya sangat banyak melukai hatinya.
dan tidak ada yang lebih melukai diri saya sendiri daripada itu.
how could i bare to not having her around one day? how will i manage to be a mom? i don’t think i could be as good as her. as comfortable as her. as knowing as she knows me. as i grow older, i realize that it’s always nice to go home, having some chips and watch tv with her. why the hell did i really want to go so far from home? it’s always warm in here, and everything feels safe and sound whenever i lay my head on her shoulder.
mereka bilang, surga itu di telapak kaki ibu. saya bilang surga itu di samping ibu, atau dibelakangnya sambil memeluknya erat dan mencium aroma tubuhnya yang menenangkan.
selamat hari ibu untuk ibu.